Rabu, 03 November 2010

askep

ASKEP STRAIN
A. Pengertian
a. Strain adalah “tarikan otot” akibat penggunaan berlebihan,peregangan berlebihan,atau stress yang berlebihan.
b. Strain adalah robekan mikroskopis tidak komplit dengan perdarahan ke dalam jaringan.(Smeltzer Suzame, KMB Brunner dan Suddarth)
c. Strain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada struktur muskulotendinous (otot atau tendon).
Strain akut pada struktur muskulotendious terjadi pada persambungan antara otot dan tendon. Tipe cedera ini sering terlihat pada pelari yang mengalami strain pada hamstringnya. Beberapa kali cedera terjadi secara mendadak ketika pelari dalam melangkahi penuh
B. Etiologi
Pada strain akut :
a. Ketika otot keluar dan berkontraksi secara mendadak
Pada strain kronis :
b. Terjadi secara berkala oleh karena penggunaaan yang berlebihan/tekanan berulang-ulang,menghasilkan tendonitis (peradangan pada tendon).
C. Patofiologi
Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau tidak langsung (overloading). Cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang salah,kontraksi otot yang berlebihan atau ketika terjadi kontraksi ,otot belum siap,terjadi pada bagian groin muscles (otot pada kunci paha),hamstring (otot paha bagian bawah),dan otot guadriceps. Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan daerah sekitar cedera memar dan membengkak.

D. Klasifikasi Strain
 Derajat I/Mild Strain (Ringan)
Yaitu adanya cidera akibat penggunaan yang berlebihan pada penguluran unit muskulotendinous yang ringan berupa stretching/kerobekan ringan pada otot/ligament.
• Gejala yang timbul :
a) Nyeri local
b) Meningkat apabila bergerak/bila ada beban pada otot
Tanda-tandanya :
Adanya spasme otot ringan
 Bengkak
 Gangguan kekuatan otot
 Fungsi yang sangat ringan
 Komplikasi
 Strain dapat berulang
 Tendonitis
 Perioritis
• Perubahan patologi
 Adanya inflasi ringan dan mengganggu jaringan otot dan tendon namun tanda perdarahan yang besar.
• Terapi
 Biasanya sembuh dengan cepat dan pemberian istirahat,kompresi dan elevasi,terapi latihan yang dapat membantu mengembalikan kekuatan otot.
 Derajat II/Medorate Strain (Ringan)
Yaitu adanya cidera pada unit muskulotendinous akibat kontraksi/pengukur yang berlebihan.
• Gejala yang timbul
 Nyeri local
 Meningkat apabila bergerak/apabila ada tekanan otot
 Spasme otot sedang
 Bengkak
 Tenderness
 Gangguan kekuatan otot dan fungsi sedang

• Komplikasi sama seperti pada derajat I :
 Strain dapat berulang
 Tendonitis
 Perioritis

• Terapi :
 Impobilisasi pada daerah cidera
 Istirahat
 Kompresi
 Elevasi
• Perubahan patologi :
 Adanya robekan serabut otot
 Derajat III/Strain Severe (Berat)
Yaitu adanya tekanan/penguluran mendadak yang cukup berat. Berupa robekan penuh pada otot dan ligament yang menghasilkan ketidakstabilan sendi.
• Gejala :
 Nyeri yang berat
 Adanya stabilitas
 Spasme
 Kuat
 Bengkak
 Tenderness
 Gangguan fungsi otot
• Komplikasi ;
 Distabilitas yang sama
• Perubahan patologi :
 Adanya robekan/tendon dengan terpisahnya otot dengan tendon.
• Terapi :
 Imobilisasi dengan kemungkinan pembedahan untuk mengembalikan fungsinya.
E. Manifestasi klinis
• Nyeri mendadak
• Edema
• Spasme otot
• Haematoma
F. Komplikasi
• Strain yang berulang
• Tendonitis
G. Penatalaksanaan
• Istirahat Akan mencegah cidera tambah dan mempercepat penyembuhan
• Meninggikan bagian yang sakit,tujuannya peninggian akan mengontrol pembengkakan.
• Pemberian kompres dingin
Kompres dingin basah atau kering diberikan secara intermioten 20-48 jam pertama yang akan mengurangi perdarahan edema dan ketidaknyamanan.
H. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
• Kajian nyeri
 Apa yang dilakukan pasien sebelum dirasakan nyeri?
 Apakah nyeri terlokalisasi?
 Bagaimana pasien menjelaskan nyeri?
 Apakah nyeri menjalar?
• Inpeksi umumnya untuk mengetahui perkembangan edema,memantau luka dikulit.
• Palpasi sendi untuk mengetahui sensitifitas dan perkembangan jaringan lunak yang banyak teraba keras
• Observasi tingkat keterbatasan mobilitas sendi yang terserang


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

I. Diagnosa I
Nyeri b/d spasme otot
• Intervensi
 Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring/istirahat
 Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena
 Dorong pasien mendiskusikan masalah sehubungan dengan cidera
 Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif/aktif
 Berikan alternative tindakan menyamankan seperti pijatan
 Selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa/tiba-tiba/mendadak
II. Diagnosa II
Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri
• Intervensi
 Anjurkan untuk istirahat selama masih mengalami nyeri
 Anjurkan untuk membatasi aktivitas yang berlebihan,seperti mengangkat beban yang berat
 Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
III. Diagnosa III
Kerusakan intregitas jaringan b/d adanya cedera
• Intervensi
 Awasi adanya edema dan perdarahan pada area yang luka
 Berikan perawatan luka
 Perhatikan peningkatan atau berlanjutnya nyeri




DAFTAR PUSTAKA
 Smelzer,Suzanne.C,2001.buku ajar keperawatan medikal bedah brunner dan suddarth.Ed 8.Jakarta;EGC
 Doenges,Marlyn.E.1999.rencana asuhan keperawatan.Ed 3.Jakarta;EGC
 www.arifsugiri.blogspot.com

Senin, 01 November 2010

Askep Strain Dan Sprain


ASKEP STRAIN DAN SPRAIN

 

STRAIN ( KRAM )

A.    PENGERTIAN.
Adalah tarikan pada otot, ligament atau tendon yang disebabkan oleh regangan (streech) yang berlebihan.

B.    PATOFISIOLOGI.
Adalah daya yang tidak semestinya yang diterapkan pada otot, ligament atau tendon. Daya (force) tersebut akan meregangkan serabut-serabut tersebut dan menyebabkan kelemahan dan mati rasa temporer serta perdarahan jika pembuluh darah dan kapiler dalam jaringan yang sakit tersebut mengalami regangan yang berlebihan.

C.    TANDA DAN GEJALA.
-      Kelemahan
-      Mati rasa
-      Perdarahan yang ditandai dengan :
-      Perubahan warna
-      Bukaan pada kulit
-      Perubahan mobilitas,stabilitas dan kelonggaran sendi.
-      Nyeri
-      Odema

D. PENANGANAN.
Kelemahan biasanya berakhir sekitar 24 – 72 jam sedangkan mati rasa biasanya menghilang dalam 1 jam. Perdarahan biasanya berlangsung selama 30 menit atau lebih kecuali jika diterapkan tekanan atau dingin untuk menghentikannya. Otot, ligament atau tendon yang kram akan memperoleh kembali fungsinya secara penuh setelah diberikan perawatan konservatif.

E. RENCANA PERAWATAN.
1.    Kemotherapi.
Dengan analgetik seperti Aspirin (300 – 600 mg/hari) atau Acetaminofen (300 – 600 mg/hari).
2.    Elektromekanis.
- Penerapan dingin.
Dengan kantong es 24 0C
-  Pembalutan atau wrapping eksternal.
  Dengan pembalutan atau pengendongan bagian yang sakit.
- Posisi ditinggikan atau diangkat.
Dengan ditinggikan jika yang sakit adalah ekstremitas.
- Latihan ROM.
Latihan pelan-pelan dan penggunaan semampunya sesudah 48 jam.
 Penyangga beban.
Semampunya dilakukan penggunaan secara penuh.


SPRAIN (KESELEO )

A. PENGERTIAN.
Adalah kekoyakan pada otot, ligament atau tendon yang dapat bersifat sedang atau parah.

B. PATOFISIOLOGI.
Adalah kekoyakan ( avulsion ) seluruh atau sebagian dari dan disekeliling sendi, yang disebabkan oleh daya yang tidak semestinya, pemelintiran atau mendorong / mendesak pada saat berolah raga atau aktivitas kerja.
Kebanyakan keseleo terjadi pada pergelangan tangan dan kaki, jari-jari tangan dan kaki. Pada trauma olah raga (sepak bola) sering terjadi robekan ligament pada sendi lutut. Sendi-sendi lain juga dapat terkilir jika diterapkan daya tekanan atau tarikan yang tidak semestinya tanpa diselingi peredaan.

C. TANDA DAN GEJALA.
- Sama dengan strain (kram) tetapi lebih parah.
- Edema, perdarahan dan perubahan warna yang lebih nyata.
- Ketidakmampuan untuk menggunakan sendi, otot dan tendon.
- Tidak dapat menyangga beban, nyeri lebih hebat dan konstan.

D. RENCANA PERAWATAN.
1. Pembedahan.
Mungkin diperlukan agar sendi dapat berfungsi sepenuhnya; pengurangan-pengurangan perbaikan terbuka terhadap jaringan yang terkoyak.
2. Kemotherapi.
Dengan analgetik Aspirin (100-300 mg setiap 4 jam) untuk meredakan nyeri dan peradangan. Kadang diperlukan Narkotik (codeine 30-60 mg peroral setiap 4 jam) untuk nyeri hebat.
3. Elektromekanis.
 - Dengan kantong es 24 0C
àPenerapan dingin
- Pembalutan / wrapping eksternal.
Dengan pembalutan, cast atau pengendongan (sung).
- Posisi ditinggikan.
Jika yang sakit adalah bagian ekstremitas.
- Latihan  ROM.
Tidak dilakukan latihan pada saat terjadi nyeri hebat dan perdarahan. Latihan pelan-pelan dimulai setelah 7-10 hari tergantung jaringan yang sakit.
- Penyangga beban.
Menghentikan penyangga beban dengan penggunaan kruk selama 7 hari atau lebih tergantung jaringan yang sakit.


STUDI DIAGNOSTIK.
a. Riwayat :
- Tekanan
- Tarikan tanpa peredaan
- Daya yang tidak semestinya
b. Pemeriksaan Fisik :
Tanda-tanda pada kulit, sistem sirkulasi dan muskuloskeletal .


ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
STRAIN DAN SPRAIN

I. PENGKAJIAN.
1. Identitas pasien.
2. Keluhan Utama.
Nyeri, kelemahan, mati rasa, edema, perdarahan, perubahan mobilitas / ketidakmampuan untuk menggunakan sendi, otot dan tendon.
3. Riwayat Kesehatan.
a. Riwayat Penyakit Sekarang.
- Kapan keluhan dirasakan, apakah sesudah beraktivitas kerja atau setelah berolah raga.
- Daerah mana yang mengalami trauma.
- Bagaimana karakteristik nyeri yang dirasakan.
b. Riwayat Penyakit Dahulu.
Apakah klien sebelumnya pernah mengalami sakit seperti ini atau mengalami trauma pada sistem muskuloskeletal lainnya.
c. Riwayat Penyakit Keluarga.
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.
4. Pemeriksaan Fisik.
a. Inspeksi :
- Kelemahan
- Edema
 perubahan warna kulit
ào Perdarahan
- Ketidakmampuan menggunakan sendi
b. Palpasi :
- Mati rasa
c. Auskultasi
d. Perkusi.
5. Pemeriksaan Penunjang.
Pada sprain untuk diagnosis perlu dilaksanakan rontgen untuk membedakan dengan patah tulang.


II. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL.
1. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri / ketidakmampuan, ditandai dengan ketidakmampuan untuk mempergunakan sendi, otot dan tendon.
Tujuan :
- Meningkatkan / mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin.
- Menunjukkan teknik memampukan melaksanakan aktivitas ( ROM aktif dan pasif ).
Intervensi :
- Kaji derajat mobilitas yang dihasilkan oleh cedera / pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap mobilisasi.
- Ajarkan untuk melaksanakan latihan rentang gerak pasien / aktif pada ekstremitas yang sehat dan latihan rentang gerak pasif pada ekstremitas yang sakit.
- Berikan pembalutan, pembebatan yang sesuai.
2. Nyeri akut berhubungan dengan peregangan atau kekoyakan pada otot, ligament atau tendon ditandai dengan kelemahan, mati rasa, perdarahan, edema, nyeri.
Tujuan :
- Menyatakan nyeri hilang.
Intervensi :
- Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips dan pembalutan.
- Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
- Pemberian kompres dingin dengan kantong es 24 0C.
- Ajarkan metode distraksi dan relaksasi selama nyeri akut.
- Berikan individu pereda rasa sakit yang optimal dengan analgesik.

3. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kehilangan fungsi tubuh.
Tujuan :
-Mendemonstrasikan adaptasi kesehatan, penanganan keterampilan.
Intervensi :
- Dorong individu untuk mengekspresikan perasaan khususnya mengenai pandangan pemikiran perasaan seseorang.
- Dorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan, dan prognosa kesehatan.
- Berikan informasi yang dapat dipercaya dan perkuat informasi yang sudah diberikan.
- Hindari kritik negatif.
- Beri privasi dan suatu keamanan lingkungan.





Daftar Pustaka

Rachmadi, Agus. 1993. Perawatan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Penerbit : AKPER Depkes, Banjarbaru.

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Penerbit : EGC, Jakarta.

Nurachman, Elly. 1989. Buku Saku Prosedur Keperawatan Medical Bedah. Penerbit : EGC, Jakarta.

Carpenito, Lynda Juall. 1999. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8 . Penerbit : EGC, Jakarta.