Senin, 17 Januari 2011

HERNIA INGUINALIS LATERALIS INKASERATA

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN 
DENGAN HERNIA INGUINALIS LATERALIS INKASERATA

A. Pengertian
Hernia adalah prostrusi dari organ melalui lubang defektif yang didapat atau kongenital pada dinding rongga yang secara normal berisi organ. 
Istilah hernia berasal dari bahasa Yunani “ERNOS” yang berarti penonjolan.

B. Macam – macam hernia.
Ditinjau dari letaknya, hernia dibagi menjadi 2 golongan :
1. Hernia eksterna.
Hernia yang tonjolannya tampak dari luar yaitu hernia inguinalis lateralis (indirek), hernia inguinalis medialias (direk), hernia femoralis, hernia umbilikalis, hernia supra umbilikalis, hernia sikatrikalis, dan lain – lain. 
2. Hernia interna
Hernia yang tonjolannya tidak tampak dari luar, yaitu hernia obturatorika, hernia diafragmatika, hernia foramen Winslowi dan hernia ligamen treitz.
Hernia inguinalis lateralis inakserata merupakan hernia yang sering atau paling banyak didapat terutama pada laki – laki, dengan bentuknya bulat lonjong. Disebut inkaserata karena hernia yang isi kantongnya tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai gangguan passage dan atau vaskularisasi.

C. Penyebab.
Penyebab terjadinya hernia ada dua yaitu :
1. Kongenital
Terjadi sejak lahir.
2. Didapat (acquired)
Terjadi setelah dewasa atau pada usia lanjut. Disebabkan adanya tekanan intraabdominal yang meningkat dan dalam waktu yang lama misalnya batuk kronis, konstipasi kronis, gangguan proses kencing (hipertropi prostat, striktur uretra), ascites dan sebagainya.

D. Patologi anatomi
Hernia terdiri dari 3 unsur yaitu kantong hernia yang terdiri dari peritoneum, isi hernia yang biasanya terdiri dari usus, omentum, kadang berisi organ intraperitoneal lain atau organ ekstraperitoneal seperti ovarium, apendiks divertikel dan buli – buli. Unsur terakhir adalah struktur yang menutupi kantong hernia yang dapat berupa kulit (skrotum) umbilikus atau organ - organ lain misalnya paru dan sebagainya.
Pada hernia inguinal lateralis (indirek) lengkung usus keluar melalui kanalis inguinalis dan mengikuti kora spermatikus (pria) atau ligamen sekitar (wanita). Ini diakibatkan gagalnya prosesus vaginalis untuk menutup testis turun ke dalam skrotum atau fiksasi ovarium.
Pada pertumbuhan janin (+ 3 minggu) testis yang mula – mula terletak di atas mengalami penurunan (desensus) menuju ke skrotum. Pada waktu testis turun melewati inguinal sampai skrotum prossesus vaginalis peritoneal yang terbuka dan berhubungan dengan rongga peritoneum mengalami obliterasi dan setelah testis sampai pada skrotum, prossesus vaginalis peritoneal seluruhnya tertutup (obliterasi). Bila ada gangguan obliterasi maka seluruh prossesus vaginalis peritoneal terbuka, terjadilah hernia inguinalis lateralis. Hernia inguinalis lateralis lebih sering didapatkan dibagian kanan (+ 60 %). Hal ini disebabkan karena proses desensus dan testis kanan lebih lambat dibandingkan dengan yang kiri.

E. Tanda dan gejala
Pasien mengeluh benjolan pada lipat paha atau perut di bagian bawah. Benjolan dapat keluar dan masuk di daerah kemaluan, kadang – kadang terasa kemeng. Bisa terjadi obstruksi usus seperti bising usus nada tinggi sampai tak ada, mual dan muntah. 

F. Penatalaksanaan.
1. Manajemen medis
Setiap penderita hernia inguinalis lateralis selalu harus diobati dengan jalan pembedahan. Pembedahan secepat mungkin setelah diagnosa ditegakkan. Adapun prinsip pembedahan hernia inguinalis lateralis adalah :
a. Herniotomy : membuang kantong hernia, ini terutama pada anak – anak karena dasarnya adalah kongenital tanpa adanya kelemahan dinding perut.
b. Herniorrhaphy : membuang kantong hernia disertai tindakan bedah plastik untuk memperkuat dinding perut bagian bawah di belakang kanalis inguinalis.
Pada pasien yang didapatkan kontraindikasi pembedahan atau menolak dilakukan pembedahan, dapat dianjurkan untuk memakai sabuk hernia (truss). Sabuk itu dipakai waktu pagi dimana penderita aktif dan dilepas pada waktu istirahat (malam).

2. Manajemen keperawatan
a. Pre operasi :
Pengkajian : ditujukan pada nyeri, ada tonjolan (pembengkakan) di daerah inguinal, cemas, tingkat pengetahuan pasien tentang hernia dan penanganannya. Pengkajian juga ditujukan pada riwayat.
Diagnosa keperawatan : masalah keperawatan yang bisa muncul adalah gangguan kenyamanan, kecemasan, kurang pengetahuan dan resiko tinggi terjadi reinkarserata.
Intervensi keperawatan (secara umum) ; beri posisi kepala tempat tidur ditinggikan, bila hernia turun/menonjol dimasukan kembali secara manual, anjurkan menggunakan sabuk hernia, beri analgesik sesuai advis, hindari manuever yang bisa meningkatkan tekanan intraabdominal : batuk kronik, angkat berat, mengedan secara kuat dan anjurkan untuk kompres dingin pada daerah yang bengkak.
b. Post operasi :
Dihubungkan dengan pembedahan umum lainnya seperti masalah resiko tinggi infeksi, masalah gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan luka operasi, dan pendidikan pasien untuk perencanaan pulang.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito,J,L (1999). ”Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan “ Edisi 2

D.D.Ignatavicius dan M.V.Bayne (1991), ”Medical Surgical Nursing“, A Nursing Process Approach, W. B. Saunders Company, Philadelphia

Doenges M.E. (1989) Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). Philadelpia, F.A. Davis Company. 

Engrand, Barbara (1999), Keperawatan Medikal Bedah, volume 4, Jakarta, EGC

Goodner, Brenda & Roth, S.L. (1995), “Panduan Tindakan Keperawatan Klinik Praktis”, alih bahasa Ni Luh G. Yasmin Asih, EGC, Jakarta

Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. Louis. Cv. Mosby Company.

Senat Mahasiswa FK Unair (1996) Diktat Kuliah Ilmu Bedah 1, Surabaya



LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN TN. SUWITO 
DENGAN HERNIA INGUINALIS LATERALIS SINISTRA
DI RUANG BEDAH G RSDS SURABAYA 







PENGKAJIAN
I. Biodata
A. Identitas pasien
1. Nama : Tn. Suwito (Laki – laki/62 tahun) 
2. Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
3. Agama : Islam
4. Status perkawinan : kawin 
5. Pendidikan/pekerjaan : SD/swasta.
6. Bahasa yang digunakan : Bahasa Indonesia dan Jawa
7. Alamat : Asam Jaya V/27 Surabaya
8. Kiriman dari : datang sendiri
B. Penanggung jawab pasien
Pasien sendiri bertanggung jawab atas perawatannya dan dijaga oleh anak sulungnya yang tinggal bersama dengan pasien.
II. Alasan masuk rumah sakit
A. Alasan dirawat :
Pasien menderita nyeri hebat pada jam 11.00 tanggal 08 – 10 – 2001, hernia yang menonjol tidak bisa masuk. 
B. Keluhan utama :
Pasien dan keluarga belum memahami mengenai penyakit yang diderita, dan penanganannya. Pasien mengatakan apabila terjadi penurunan hernia maka yang dilakukan hanyalah mendorongnya masuk kembali. Terjadi bila pasien bekerja keras seperti mengangkat beban berat, saat BAB mengedan terlalu kuat. Pasein mengatakan nyeri yang dirasakan biasanya di daerah perineum dan menjalar ke belakang. Pasien dan keluarga menanyakan bagaimana penyakit ini bisa timbul dan selain penanganan yang sudah dilakukan, tindakan lain apa yang harus dilakukan.

III. Riwayat kesehatan
A. Riwayat kesehatan sebelum sakit ini :
Pasien pernah menderita penyakit malaria waktu SD namun tidak sampai opname. Pasien tidak ada alergi makanan dan obat – obatan.
B. Riwayat kesehatan sekarang :
Pasien merasakan hal ini sejak 2 tahun yang lalu. Namun tidak mengganggu aktivitas karena dianggap biasa saja. Selain itu dengan mendorong ke atas maka hernia akan masuk kembali. Pada tanggal 09 – 10 – 2001 jam 11.00 pasien merasakan nyeri hebat yang tidak tertahankan. Pasien berusaha mendorong masuk tetapi tidak bisa. Akhirnya jam 20.24 pasien dibawa ke IRD RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
C. Riwayat kesehatan keluarga :
Kakek, nenek, saudara kandung ibu/bapak pasien tidak ada yang sakit. Saudara kandung pasien salah satunya menderita asma. Orang tua pasien meninggal karena usia tua.
Genogram :












Keterangan :
: Laki-Laki
: Perempuan
: Tinggal serumah
: pasien

IV. Informasi khusus
A. Masa balita
1. Keadaan bayi lahir
Pasien waktu lahir normal dan sehat. Tidak tahu APGAR score, BB dan PB lahir, dan lingkar kepala dan dada.
2. Riwayat sehari – hari 
Pasien tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya teman – teman yang lain selama dalam proses tumbuh kembang.

B. Klien wanita
Tidak dikaji

V. Aktivitas hidup sehari – hari
Aktivitas sehari – hari Pre masuk RS Di rumah sakit
A. Makan dan minum
1. Nutrisi


2. Minum 
Pasien makan tiga kali sehari, tidak ada makanan pantangan

Pasien hanya minum air putih, 8 – 10 gelas/hari. 
Pasien makan 3 kali/hari, saat ini pasien puasa untuk pemeriksaan gula darah, sebelumnya diet lunak. 
B. Eliminasi
1. BAB



2. BAK


3. Keringat 
1 kali sehari, tidak konstipasi, warna dan jumlah normal serta tidak ada kelainan dan bau
BAK 2 kali/hari, tidak ada kelainan

Berkeringat bila bekerja 
Belum BAB sejak masuk. 



BAK 2 kali perhari, jumlah 2 gelas, warna kuning dan tidak ada kelainan
Tidak berkeringat
C. Istirahat dan tidur
1. Istirahat
2. Tidur 
Tidak tentu
Malam hari jam 21.00 – 05.00. Tidak ada kesulitan dalam tidur. 
Istirahat di tempat tidur
Pasien baru satu malam di RS dan tadi malam bisa tidur dengan tenang karena hernia sudah masuk kembali
D. Aktivitas Pasien sekarang tidak bekerja lagi (di rumah saja). Pasien melakukan aktivitas seperti biasa, hanya saat terjadi herniasi maka pasien hanya berbaring di tempat tidur. Saat sekarang mandi, menggosok gigi, BAB dan BAK dilakukan di kamar mandi.
E. Kebersihan diri Pasien mandi 2 X/hari, menggosok gigi setiap kali setelah mandi dan makan, tidak ada hambatan dalam melakukana personal hygiene Pasien mandi pagi dan sore, menggosok gigi. Melakukan personal hygiene di kamar mandi
F. Rekreasi Pasien senang mendengar radio dibandingkan menonton tv dan mendengar musik. Tidak bisa dilakukan karena masuk rumah sakit

VI. Psikososial 
A. Psikologsi
1. Persepsi klien terhadap penyakit :
Menurut pasien dan keluarga mereka belum mengerti proses penyakit, dan cara menangani selain yang dilakukan pasien. Keluarga menanyakan bagaimana bila dilakukan operasi karena baru pertama kali mengalami hal ini.
2. Konsep diri :
Pasien mengatakan bahwa perannya sebagai orang tua terganggu namun beliau menyatakan bahwa anak – anaknya sudah dewasa dan sudah biasa mandiri bila ayahnya tidak ada.
3. Keadaan emosi :
Pasien pasrah saja terhadap apa yang dialaminya.
4. Kemampuan adaptasi :
Pasien mampu beradaptasi terhadap apa yang dialaminya sekarang.
5. Mekanisme pertahanan diri : 
Pasien menyerahkan sepenuhnya sakit yang dialaminya kepada Tuhan Yang Mahaesa. 
B. Sosial
Hubungan pasien dengan keluarga dan keluarga lain harmonis, dimana anak – anak dan isterinya secara bergantian menunggu dan membantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya. Saat berinteraksi dengan perawat, pasien kontak mata terus dan sangat memperhatikan apa yang dijelaskan. Kegemaran/hoby adalah membaca dan merawat bunga.
C. Spiritual
Pelaksanaan ibadah : pasien beribadah 5 waktu namun sejak masuk rumah sakit pasien hanya berdoa dalam hati. Keyakinan tentang kesehatannya menurut pasien karena pekerjaan yang keras dan tidak disadari bahwa hal tersebut merupakan pencetus terjadi sakitnya..

VII. Pemeriksaan fisik
A. Keadaan umum :
Nampak tenang dan lemah, kesadaran baik, tampak sakit sedang. Tingkat kesadaran compos mentis, GCS : 4 – 5 – 6. Ciri tubuh kulit sawo matang, rambut air dan agak kurus. Tanda vital : nadi 140 X/menit, RR 20 X/menit, suhu 3670C, tekanan darah 120/70 mmHg.
B. Head to toe
1. Kepala
Bentuk kepala bulat, posisi kepala datar tanpa bantal, tidak ada luka atau cedera kepala dan kulit kepala tidak ada kotoran atau bersih.
2. Rambut 
Rambut lurus, warna hitam dan agak panjang. Nampak bersih, tidak ada ketombe.
3. Mata (penglihatan).
Visus/ketajaman penglihatan dapat melihat dengan baik, sklera putih, konjungtiva tidak anemis, kedua pupil (kanan dan kiri) isokor, refleks cahaya positif, posisi bola mata tengah, dan menggunakan alat bantu yaitu kaca mata.
4. Hidung (penciuman).
Bentuk normal, tidak ada kelainan seperti deviasi septum, mempunyai dua lubang, sekret tidak ada, epistaksi dam rhinorrhea, peradangan mukosa dan polip tidak ada, sedangkan fungsi penciuman normal.
5. Telinga (pendengaran).
Ketajaman pendengaran baik, bentuk normal : simetris kiri dan kanan, fungsi pendengaran baik, tidak ada serumen dan cairan, demikian juga dengan perdarahan dan otorrhoe serta alat bantu tidak ada. 
6. Mulut dan gigi.
Bentuk bibir normal, mulut tidak berbau dan bersih. Tidak ada perdarahan dan peradangan pada mulut. Jumlah gigi utuh, tidak ada karang/caries, tepi lidah tidak hiperemik, tidak ada benda asing atau gigi palsu. Sedangkan fungsi pengecapan baik, bentuk dan ukuran tonsil normal serta tidak ada peradangan pada faring.
7. Leher
Kelenjar getah bening, kelenjar tiroid dan tekanan vena jugularis tak ada kelainan (tidak mengalami pembesaran), tidak ada kaku kuduk : dimana pergerakan memutar dan menoleh dalam batas normal.
8. Thoraks (fungsi pernapasan)
Inspeksi : simetris, pengembangan dada optimal, frekuensi pernapasan 20 x/menit. Palpasi : hangat, ada vokal fremitus, ekspansi paru pada inspirasi dan ekspirasi maksimal. Perkusi : tidak ada penumpukan sekret, tidak ada hiperresonan dan bunyi konsolidasi. Auskultasi : tidak ada ronchii, rales ataupun wheezing. 
9. Abdomen
Inspeksi : tidak ada massa, abdomen simetris, tidak ada jaringan parut, dilatasi vena ataupun kemerahan. Palpasi : tidak ada spasme abdomen, tidak ada nyeri tekanan lepas. Perkusi : tidak ada distensi kandung kemih, ataupun lambung/saluran cerna. Auskultasi : bising usus normal (17 X/menit). 
10. Reproduksi (alat kelamin)
Inspeksi : nampak bersih dan pada saat pasien disuruh mengedan nampak ada benjolan bulat lonjong di daerah inguinal. Palpasi : tes Zieman ada dorongan pada jari kedua dari tangan kanan. Pada tes finger ada dorngan atau tekanan pada ujung jari telunjuk dan pada tes Thumb tidak ada tonjolan pada waktu pasien mengedan. Tidak ada nyeri tekan.
11. Ekstremitas
Tidak ada luka pada tangan kiri dan kanan. Kekuatan cukup, dimana mampu membolak – balikan tangan dan menggerakan kakinya. 
12. Integumen
Secara umum kulit kelihatan bersih, tidak ada penyakit kulit. Teraba hangat di dahi dan daerah thoraks. Turgor kulit normal. Rambut di daerah kemaluan dicukur habis.

VIII. Pemeriksaan penunjang
A. Laboratorium :
Tanggal 10 – 10 – 2001 : pemeriksaan WBC 7,4 X 100 ; RBC 5,17 X 105 ; Hb 14,3 g/dl ; PCV (Hct) 42,3 % ; MCV 81,8 fl ; MCH 27,7 pg ; Trombosit 299 X 1000 ; Eosinofil -- ; basofil -- ; stab -- ; segmen 85 ; limfosit 15 ; monosit -- ; LED 32 mm/jam ; BUN 22 mg/dl ; creatinin 0,9 mg/dl ; SGOT 18 u/l ; SGPT 14 u/l ; gula darah puasa 72 mm/dl dan gula darah 2 jam PP 144 mg/dl.
B. Radiologi
Ada x ray dada : interpretasi tidak ada kelainan.
C. EKG/USG/IVP
Tidak ada
D. Endoskopi
Tidak ada

Analisa data : tanggal 09 – 10 – 2001 

No Data subyektif Data Obyekif Masalah Etiologi
1. Pasien dan keluarga mengatakan tidak memahami proses penyakit, perawatan/ penanganannya, pasien mengatakan baru pertama kali masuk rumah sakit Tidak bisa menjawab pengertian, penyebab, proses penyakit, hanya menyebutkan cara penanganan bila hernia timbul, dan tidak prosedur pembedahan : persiapan, pendidikan SD, Pengetahuan Informasi yang kurang
2. Pasien mengatakan hernianya hilang timbul Saat pasien disuruh mengedan nampak ada benjolan bulat lonjong di daerah inguinal. Palpasi : tes Zieman ada dorongan pada jari kedua dari tangan kanan. Pada tes finger ada dorngan atau tekanan pada ujung jari telunjuk dan pada tes Thumb tidak ada tonjolan pada waktu pasien mengedan. Resiko tinggi terjadi hernia yang isi kantongnya tidak dapat kembali Meningkatnya tekanan intrabdominal dan lemahnya otot diinding perut. 

DIAGNOSA KEPERAWATAN (Sesuai prioritas)
1. Kurang pengetahuan tentang pengertian, proses dan perawatan penyakit hernia yang diderita berhubungan dengan kurangnya informasi.
2. Resiko tinggi terjadinya hernia yang isinya kantongnya tidak dapat kembali berhubungan dengan meningkatnya tekanan intra abdominal dan lemahnya otot dinding perut.

Pada tanggal 10–10–2001 ditemukan masalah baru (diagnosa keperawatan 3) yaitu :
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan menurunnya isi kantong hernia di daerah inguinal, yang ditandai dengan pasien mengatakan nyeri pada angka 4 pada skala 5, pasien meringis, berkeringat, ada benjolan di sebelah kanan inguinal (lipat paha).

PERENCANAAN
1. Diagnosa keperawatan 1.
Tujuan : pengetahuan pasien dan keluarga tentang proses penyakit dan penanganannya meningkat setelah 3 kali pertemuan.
Kriteria : - dapat menyebutkan pengertian, penyebab dan tanda/gejala
- dapat menyebutkan penanganan bila terjadi reinkarserata
- dapat menyebutkan aktivitas yang menyebabkan reinkarserata
- dapat memahami pembedahan yang akan dialami
Intervensi : 
a. Kaji tingkat pengetahuan pasien
Rasional : tingkat pengetahuan membantu menentukan metoda dalam memberikan pendidikan kepada pasien
b. Berikan penjelasan mengenai hernia : pengertian, penyebab dan proses serta penanganan dengan jelas.
Rasional : penjelasan yang jelas membuat pasien dan keluarga cepat memahami sehingga pengetahuan meningkat.
c. Berikan penguatan bila pasien mampu menyebutkan kembali apa yang sudah dijelaskan.
Rasional : pasien akan lebih mudah mengingat jika diberi reinforcement oleh perawat mengenai pemahamannya.
d. Anjurkan pasien untuk menanyakan kepada pasien di samping untuk berbagi pengalaman
Rasional : eksplorasi penggalaman dengan pasien lain dalam pembedahan yang sama membantu meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga

2. Diagnosa keperawatan 2.
Tujuan : selama menunggu jadwal pembedahan tidak terjadi tanda dan gejala reinkarserata.
Kriteria : - tidak mengeluh nyeri
- tidak ada benjolan/pembengkakan di lipat paha
- tidak mengeluh mual dan muntah
- ADL dilakukan sesuai kemampuan pasien
Intervensi :
a. Berikan penjelasan dan monitor tanda – tanda terjadinya reinkarserata
Rasional : indikasi pembedahan elektif atau pembedahan emergensi.
b. Observasi tanda vital 
Rasional : mengetahui perubahan dan perkembangan tanda vital pasien sehingga tepat dalam menentukan tindakan selanjutnya.
c. Anjurkan pasien untuk tidur dengan kepala tempat tidur ditinggikan.
Rasional : posisi kaki lebih tinggi dari kepala tempat tidur memungkinkan penurunan/penonjolan isi hernia berkurang.
d. Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas harian tanpa memerlukan energi yang tinggi.
Rasional : aktivitas yang berlebihan meningkatkan tekanan intraabdominal sehingga memudahkan penurunan/penonjolan isi hernia.
e. Anjurkan pasien untuk menggunakan celana hernia (truss)
Rasional : celana hernia membantu mencegah turunnya isi hernia ke lipat paha. 

3. Diagnosa keperawatan 3.
Tujuan : setelah diberi tindakan keperawatan selama 3 jam pasien merasa nyaman (tidak merasa nyeri).
Kriteria : - pasien rileks
- tenang
- tidak ada penonjolan pada daerah lipat paha
- tanda vital dalam batas normal : Tensi 120/80, Nadi 100 x/menit, pernapasan 12 kali/menit dan suhu 373oC.
Intervensi :
a. Kaji tingkat nyeri pasien
Rasional : pnentuan tindak selanjutnya
b. Anjurkan teknik relaksasi
Rasional : teknik relaksasi membantu mengurangi peningkatan tekanan intrabdominal
c. Kolaborasi pemberian analgesik
Rasional : membantu mengurangi atau menghilangkan nyeri
d. Dorong secara manual isi hernia agar kembali ke atas.
Rasional : mencegah terjadinya strangulasi yang bisa menambah nyeri yang dialami pasien
e. Pertahankan sikap yang kalem
Rasional : sikap yang kalem dan lingkungan tenang membantu pasien mengontrol nyeri dan mengurangi kecemasan pasien.


PELAKSANAAN DAN EVALUASI
No Dx. kep Hari/tgl Implementasi Evaluasi
1 

1











2 Selasa, 9–10 –2001
18.00

18.30









20.00
20.30 

- Mengkaji tingkat pengetahuan pasien tentang pengertian, penyebab dan penanganan hernia
- Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang :
a. Pengertian hernia
b. Penyebab
c. Tanda dan gejala
d. Penangannya





- Menganjurkan pasien untuk tidur dengan kaki ditinggikan
- Menganjurkan agar menggunakan kain untuk dibebat pada daerah inguinal untuk mencegah turunnya isi hernia
- Menganjurkan kepada pasien agar dalam melakukan akrivitas harian tidak boleh berlebihan seperti BAB tidak boleh terlalu kuat mengedan, mengangkat beban berat. 
Jam 20.45
S : pasien dan keluarga mengatakan memahami proses penyakit tetapi penganan terutama pembedahan belum memahami
O : mampu menyebutkan kembali pengertian, belum mampu menyebutkan proses penyakit secara keseluruhan, mampu menyebutkan kembali aktivitas yang perlu dihindari dan belum mampu menyebutkan tujuan dari pembedahan
A : pengetahuan pasien dan keluarga bertambah
P : intervensi dipertahankan terutama penjelasan tentang pembedahan.

S : Pasien mengatakan sekarang tidak ada penurunan isi hernia
O : tidak ada pembengkakan, nyeri tidak ada, mual – muntah tidak ada, pasien rileks
A : tidak ada tanda/gejala reinkarserata
P : intervensi dipertahankan 

No Dx. kep Hari/tgl Implementasi Evaluasi
2 

1












2






3.
Rabu, 10 - 10 –2001
08.00

12.30










07.30
07.45





07.15

08.20 

- Menanyakan kembali tentang pengertian, penyebab dan penanganan hernia
- Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang proses terjadinya hernia dan pembedahan yang akan dijalani : persiapan sampai pulang dari ruang operasi
- Menganjurkan kepada pasien untuk menanyakan pengalaman pembedahan pada pasien lain yang sudah menjalani pembedahan (Tn. Mahmud)





- Menganjurkan pasien untuk tidur dengan kaki ditinggikan
- Menganjurkan agar menggunakan kain untuk dibebat pada daerah inguinal untuk mencegah turunnya isi hernia
- Menganjurkan pasien agar aktivitas harian tidak boleh berlebihan seperti BAB tidak boleh terlalu kuat mengedan, mengangkat beban berat.

- Mengkaji tingkat nyeri pasien dengan skala 1 – 5 
- Mengobservasi tanda vital
- Menganjurkan untuk menarik napas dalam dan berusaha rileks
- Mempertahankan sikap yang kalem dengan pasien dan keluarga sambil mendengarkan keluhan pasien dan keluarga 
Jam 13.30
S : pasien dan keluarga mengatakan memahami pembedahan yang akan dihadapi pasien
O : mampu menyebutkan kembali pengertian, mampu menyebutkan proses penyakit secara keseluruhan, mampu menyebutkan kembali aktivitas yang perlu dihindari dan belum mampu menyebutkan tujuan dari pembedahan
A : pengetahuan pasien dan keluarga meningkat
P : intervensi dihentikan.

S : Pasien mengatakan sekarang ada penurunan isi hernia jam 06.00 pagi
O : ada pembengkakan, nyeri, mual – muntah tidak ada, pasien tegang
A : ada tanda/gejala reinkarserata
P : intervensi dipertahankan

S : Pasien mengatakan nyeri pada 1 dari skala 5, tidak merambat sampai ke pinggul
O : ada pembengkakan, pasien tegang, tensi 130/80 mmHg, nadi 135 x/menit, pernapasan 22 x/menit, suhu 38oC
A : gangguan rasa nyaman nyeri
P : intervensi dipertahankan

No Dx. kep Hari/tgl Implementasi Evaluasi
2 

2






3.
Kamis, 11 - 10–2001
08.00


12.30



07.15

08.20 

- Menganjurkan pasien untuk tidur dengan kaki ditinggikan
- Menganjurkan agar menggunakan kain untuk dibebat pada daerah inguinal untuk mencegah turunnya isi hernia
- Menganjurkan pasien agar aktivitas harian tidak boleh berlebihan seperti BAB tidak boleh terlalu kuat mengedan, mengangkat beban berat.

- Mengkaji tingkat nyeri pasien dengan skala 1 – 5 
- Mengobservasi tanda vital
- Mempertahankan sikap yang kalem dengan pasien dan keluarga sambil mendengarkan keluhan pasien dan keluarga 
Jam 13.30
S : Pasien mengatakan tidak ada penurunan isi hernia 
O : tidak ada pembengkakan, nyeri, mual – muntah tidak ada, pasien tidak tegang
A : ada tanda/gejala reinkarserata
P : intervensi dipertahankan

S : Pasien mengatakan nyeri pada 1 dari skala 5, tidak merambat sampai ke pinggul
O : tidak ada pembengkakan, pasien rileks, tensi 120/70 mmHg, nadi 100 x/menit, pernapasan 16 x/menit, suhu 37oC
A : gangguan rasa nyaman nyeri tidak terjadi
P : intervensi dihnetikan

Pada hari Jumad, 12 Oktober 2001 pasien menjalani pembedahan (herniotomi).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar