Rabu, 08 Desember 2010

ASKEP IBU DENGAN KOMPLIKASI POST NATAL “ GANGGUAN PSIKOLOGIS “

ASKEP IBU DENGAN KOMPLIKASI POST NATAL
“ GANGGUAN PSIKOLOGIS “

A. Defenisi
Depresi post partum adalah keadaan emosi yang ditandai oleh episode menangis ringan sesaat dan perasaan sedih selama 10 hari pertama setelah melahirkan.
Psikosa post partum adalah gangguan kepribadian derajat berat yang mengurangi kemampuan fungsi tangguang jawab pasien, Gejala-gejala ini diklasifikasikan sebagai psikosis manik depresi psikosis post partum, skizoprenia dan keadaan kebingungan toksik. (Kapita selekta kedaruratan obstetri dan ginekologi : 367)

B. Etiologi
Penyebab dari depresi post partum belum diketahui secara pasti tetapi kemungkinan merupakan kombinasi dari aspek biologis, psikososial, stress situasional. Hal ini juga berhubungan dengan latar belakang depresi personal atau keluarga, dukungan social yang rendah dan masalah selama kehamilan dan kelahiran.
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko gangguan dapat berupa :
• Prustasi hormonal seiring dengan kelahiran
• Latar belakang depresi, gangguan mental
• Disfungsi mental atau kesulitan berhubungan dengan orang terdekat
• Kemarahan terhadap kehamilan
• Perasaan terisolasi atau tidak ada dukungan dari keluarga
• Kelelahan, kurang tidur, kekhawatiran financial, melahirkan bayi cacat
• Kehamilan yang tidak diinginkan.

C. Klasifikasi
a. Post partum blues
Tipe paling banyak dan depresi post partum adalah post partum blues, merupakan suatu gangguan penyesuain terhadap kehidupan baru (kelahiran). Ibu mengalami gangguan mood selama masa transisi, tersebut kurang dari 1-14 hari, dimana puncak pada hari ke-5.
b. Servere post partum depression
Disebut juga affektif (neurotic) depression terjadi dengan singkat setelah kelahiran tetapi mungkin tidak terdiagnosa untuk beberapa bulan post partum ibu akan mengalami pengalaman yang mendalam, perasaan kehilangan dan kesedihan yang persisten, diikuti oleh kecemasan, mudah tersinggung, gangguan tidur, kurang nafsu makan dan perasaan salah.
c. Women with borderline personalities
Pada ambang gangguan personal biasanya mempunyai beberapa gejala seperti diatas tetapi ditambah oleh perasaan putus asa, hampa dan tidak berguna. Perasaan ini bisa timbul sebelum kehamilan tapi lebih menonjol pada saat kehamilan.
d. Post partum psikologis
Ibu dengan depresi psikotik kehilangan kontak dengan realita dan mengalami delusi dan disorientasi, umunya berhubungan dengan kesehatan bayi dan seksualitas.

D. Manifestasi klinis
a. Post partum blues
Depresi ringan, menangis, perasaan kehilangan, kelelahan, konsentrasi menurun.
b. Afektif (neurotic) depression
Mencakup tahap-tahap ansietas, fobia, ketakutan akan membahayakan bayi, berat badan menurun, imsomnia, mudah tersinggung, perasaan bersalah bahkan apatis.
c. Women with botderline depresion personalities
Bisa berfluktasi dan neurotik depresi ke psikotik
d. Post partum psyhosis
Delusi, halusinasi, disorientasi, rasa marah terhadap diri sendiri dan bayi

Dampak depresi pada keluarga :
Depresi postpartum bisa berakibat pada seluruh keluarga, hal ini menciptakan ketegangan pada metode koping yang bisa dipakai pada setiap anggota keluarga dan sering menimbulkan kesulitan dalam berkomunikasi. Kemudian stressor sering menjadi besar dan sebagai akibatnya anggota keluarga akan mengurangi interaksinya dengan ibu yang depresi tersebut ketika ibu sedang membutuhkan dukungan yang lebih, komunikasi bisa terganggu karena penolakan ibu terhadap orang sekitarnya.

Pasangan merasakan ada beberapa perubahan dalam hidup mereka setelah kelahiran, seperti perasaan kehilangan teman, kehilangan control, marah dan prustasi. Ibu yang depresi berinteraksi berbeda dengan bayinya dibandingkan dengan ibu yang tidak depresi, mereka cendrung mudah tersinggung dan merasa tidak kompetens menjadi seorang ibu.

E. Penatalaksanaan
1. Terapi terbaik dari depresi tersebut adalah kombinasi dari psikoterapi, dukungan social dan meditasi. Psikoterapi mungkin lebih berguna dalam membantu ibu untuk mengatasi perubahan dalam hidup mereka, pasangan, dan keluarga terdekat harus ikut dalam sesi konseling sehingga mereka bisa memahami apa yang mereka rasakan dan butuhkan.
2. Pengobatan psikoterapi obat-obat penenang atau peningkatan suasana hati atau gangguan obat-obat ini dapat diindikasikan terapi spesifik tergantung pada sifat gangguan psikiatri
3. Anti depresan sering digunakan untuk depresi post partum dan mungkin diteruskan selama 6 bulan atau lebih, jika ibu ingin melanjutkan pemberian asi obat-obat yang digunakan harus aman selama laktasi karena hal ini dapat mempengaruhi proses banding.
4. Rawat inap mungkindiperlukan untuk mencegah cedera diri atau ansietas yang tidak tertahankan atau peranan tingkah laku yang tidak dapat dikontrol.

F. Asuhan Keperawatan
I. Pengakjian
a. Identitas Klien
b. Riwayat kesehatan
 RKD
Biasanya klien pernah mengalami stress psikologis pada kehamilan sebelumnya.
 RKS
Biasanya pada klien yang mengalami psikologis sering murung, gelisah, cemas, kekhawatiran yang berlebihan dan kurang tidur.
 RKK
Biasanya keluarga klien kurang memberi dukungan kepada klien termasuk suami klien.

c. Pemeriksaan Fisik
1. Aktivitas/ istirahat
Biasanya aktivitas dan istirahat klien terganggu
2. Sirkulasi
Biasanya nadi meningkat, (tachikardia), TD kadang meningkat
3. Eliminasi
Biasanya klien sering BAK, kadang terjadi diare
4. Makanan/ cairan
Biasanya terjadi anoreksia, mual atau muntah, haus , membrane mukosa kering
5. Neurosensori
Biasanya klien mengeluh sakit kepala
6. Pernafasan
Biasanya pernafasan cepat dan dangkal
7. Nyeri dan ketidaknyamanan
Biasanya terjadi nyeri/ ketidaknyamanan pada daerah abdomen dan kepala

8. Integritas Ego
Biasanya klien ansietas, gelisah
9. Seksualitas
Biasanya seksualitas terganggu dan penurunan libido
10. TTV
Biasanya nadi meningkat, pernafasan meningkat, TD meningkat
d. Kebiasaan sehari-hari
1. Kebersihan perorangan
Biasanya kebersihan perorangan tidak terjaga (kebersihan kurang)
2. Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan tidur, gelisah
3. Data sosek
Biasanya gangguan psikologis ini banyak ditemukan pada ekonomi rendah
4. Data psikologis
Biasanya klien murung, gelisah, rasa tidak percaya kepada orang lain, cemas, menari diri.

II. Diagnosa Keperawatan
1. Koping individu tidak efektif b/d stress kelahiran, konsep diri negative, system pendukung, yang tidak adekuat
2. Gangguan interaksi social b/d depresi berat
3. Koping keluarga yang tidak efektif, ketidak nyamanan b/d depresi mental dan efek pada keluarga
4. Resiko mencederai diri sendiri dan bayi b/d psikologis pada post partum
5. Gangguan istirahat dan tidur b/d kelelahan, kekhawatiran financial
6. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan psikologis/ stress psikologis
7. Harga diri rendah b/d perasaan terisolir, kurangnya dukungan keluarga


III. Intervensi Keperawatan
1. Koping individu tidak efektif b/d stress kelahiran, konsep diri negative, system pendukung, yang tidak adekuat
Tujuan : Koping individu kembali efektif
Kriteria : - Klien menunjukkan kemampuan menyelesaikan masalah
- Klien menunjukkan kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya serta menunjukkan kemampuan memenuhi kebutuhan fisiolgis dan psikologis
Intervensi :
a. Terapkan hubungan terapeutik perawat- klien
Ras : Pasien mungkin merasa lebih bebas dalam konteks hubungan ini
b. Kaji munculnya kemampuan koping positif, misalnya penggunaan teknik ralaksasi, keinginan untuk mengekspresikan perasaan
Ras : Jika individu memiliki kemampuan koping yang berhasil dilakukan pada masa lampau, mungkin dapat digunakan sekarang untuk mengatasi ketegangan dan kontrol individu
c. Dorong klien untuk berbicara mengenai apa yang terjadi saat ini dan apa yang telah dilakukan untuk mengatasi perasaan ansietas
Ras : Menyatakan petunjuk untuk membantu klien dalam mengembangkan kemampuan koping
d. Sediakan lingkungan yang tenang dan tidak memanipulasi serta menentukan apa yang dibutuhkan klien
Ras : Menurunkan ansietas dan menyediakan kontrol bagi klien selama situasi krisis.
e. Diskusikan perasaan menyalahkan diri sendiri/ orang lain
Ras : Ketika mekanisme ini dilindungi pada waktu kritis terdapat perasaan kounter-produktif dan interfiksasi dari perasaan tidak tertolong dan tanpa harapan
f. Identifikasi tingkah laku penanggulangan yang baru bahwa klien menunjukkan dan memperkuat adaptasi positif
Ras : Selama krisis, klien mengembangkan cara baru dalam menghadapi masalah yang dapat membantu revolusi situasi sekarang dan krisis masa depan

2. Koping keluarga yang tidak efektif, ketidak nyamanan b/d depresi mental dan efek pada keluarga
Tujuan : Koping keluarga kembali efektif
Kriteria : - Klien menunjukkan kemampuan untuk menunjukkan identifikasi sumber-sumber dalam diri sendiri untuk berhadapan dengan situasi
- Klien menunjukkan kemampuan untuk menghadapi situasi dengan caranya sendiri
Intervensi :
a. Kaji tingkat ansietas yang muncul pada keluarga atau orang terdekat
Ras : Tingkat ansietas harus dihadapi sebelum pemecahan masalah dapat dimulai
b. Kaji masalah sebelum sakit/ tingkah laku saat ini yang mengganggu perawatan/ proses penyembuhan klien
Ras : Informasikan mengenai masalah keluarga akan membantu dalam mengembangkan rencana keperawatan yang sesuai
c. Kaji tindakan orang terdekat sekarang ini dan bagaimana mereka diterima oleh klien
Ras : Orang terdekat mungkin berusaha untuk membantu namun tidak dipersepsikan sebagai sebagai bantuan oleh klien
d. Ikut sertakan orang terdekat dalam pemberian informasi, pemecahan masalah dan perawatan klien sesuai kemungkinan
Ras : informasi dapat mengurangi perasaab tanpa harapan dan tidak berguna, keikut sertaan dalam perawatan akan meningkatkan perasaan kontrol dan harga diri
e. Dorong pencarian bantuan situasi kebutuhan memberikan informasi mengenai orang dan institusi yang tersedia bagi mereka
Ras : Izin untuk mencari bantuan sesuai kebutuhan akan membuat mereka memilih untuk mengambil keuntungan dari apa yang tersedia.

IV. Implementasi
Setelah rencana tindakan keperawatan disusun secara sistemik. Selanjutnya rencana tindakan tersebut diterapkan dalam bentuk kegiatan yang nyata dan terpadu guna memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan yang diharapkan

V. Evaluasi
Akhir dari proses keperawatan adalah ketentuan hasil yang diharapkan terhadap perilaku dan sejauh mana masalah klien dapat teratasi. Disamping itu perawat juga melakukan umpan balik atau pengkajian ulang jika tujuan ditetapkan belum berhasil/ teratasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar